suatu perjalanan...
February 03, 2011
January 29, 2011
hati bersih jiwa tenang
Segala aspek kehidupan ini bermula daripada hati. Oleh itu di bawah ini ada beberapa cara bagaimana hendak mencuci hati. Diolah oleh pakar motivasi Datuk Dr. Haji Fadzilah Kamsah.
1. Dirikan solat dan banyakkan berdo’a – Ini adalah salah satu kaedah yang sungguh berkesan. Semasa berdo’a turut katakan “Ya,Allah jadikan hatiku bersih”
2. Selawat keatas Nabi Muhammad s.a.w paling minima 100 X sebelum tidur – Ini merupakan satu pelaburan yang mudah dan murah. Disamping dosa-dosa diampunkan, otak tenang, murah rezeki, orang sayangkan kita dan mencetuskan semua perkara kebaikan.
3. Solat taubat – Selain daripada memohon keampunan, dapat mencuci hati dan menenangkan minda.
4. Membaca Al-Quran – Selain dapat mencuci hati juga menenangkan jiwa, penyembuh, penenang, terapi. Sekurang- kurangnya bacalah “Qulhu-allah” sebanyak 3X.
5. Berma’af-ma’afan sesama kawan setiap hari – Semasa meminta maaf perlu sebutkan.
6. Bisikan kepada diri perkara yang positif – Jangan sesekali mengkritik, kutuk diri sendiri, merendah-rendahkan kebolehan diri sendiri. katakan lah “Aku sebenarnya……(perkara yang elok-elok belaka)
7. Program minda/cuci minda – Paling baik pada waktu malam sebelum tidur, senyum, pejam mata, katakan di dalam hati “Ya, Allah cuci otak aku, cuci hatiku, esok aku nak jadi baik, berjaya, ceria, bersemangat, aktif, positif”. Menurut kajian saikologi, apa yang disebut sebelum tidur dapat dirakamkan sepanjang tidur sehingga keesokan harinya
8. Berpuasa – Sekiranya dalam berpuasa, terhindar dari melakukan perkara-perkara kejahatan.
9. Cuba ingat tentang mati (Sekiranya hendak melakukan sesuatu kejahatan, tidak sampai hati kerana bimbang akan mati bila- bila masa).
10. Kekalkan wuduk.
11. Bersedekah.
12. Belanja orang makan.
13. Jaga makanan – jangan makan makanan yang subhat.
14. Berkawan dengan ulama.
15. Berkawan dengan orang miskin (menginsafi).
16. Pesan pada orang, jadi baik.
17. Menjaga pacaindera (mata, telinga, mulut…dsb), jangan dengar orang mengumpat.
yusuf islam
Cat stevens, who changed his name to Yusuf Islam since his conversion to Islam, is a british singer, author and composer. He lives now in London and takes part in Islamic charity operation.
Stephen Demetre Georgiou was born on the 21st of July in 1948 in London from a Cypriot Grecian father and a Swedish mother. He studied in a catholic school to which he felt a religious inclination. His father, Stavros and his mother, Ingrid, manage a restaurant with the rest of the family. Stephen has a brother and a sister older than him, David and Anita. Being influenced from his parents, he practiced music at an early age; piano and then guitar. By the age of 16 he plays music in bars during evenings where he had become famous by the age of 17 and entered an artistic school.
When he was 18, he went around Mike Hurst’s who asked him to show him his compositions. Being surprised, the producer asked him for his name; he answered: “My name is Stephen but they call me Cat Stevens” (That name was given to him by a girl because he had eyes of a cat”. Thus, he was known under that name.
Since 1966, he published a great deal of songs. He embraced success and fame very quickly thanks to his fist track “I love my dog”. After a period of sickness (tuberculosis) he published his first album Matthew and Son in 1967 which was followed by other dozens.
A guitar or a piano were simply the instruments that he was using in folk ballads and brought him a universal fame and made of him a key singer of his time. From 1967 till 1977 he multiplied his success (40 millions CDs). His masterpieces during that period are still very appreciated like The First Cut Is The Deepest, Father And Son, Wild World and Lady d’Arbanville; the latter is in the memory of the actress Patti d’Arbanville, his girlfriend at that time. It was the greatest world wide success ever reached. Patti d’Anberville, a warholienne muse, was 17 when she became an actress in the “cultissime” Flesh (1968) of Paul Morrissey. In 1971, composes the original classic featuring of Harold and Maude de Hal Ashby who has several works such as: Don’t Be Shy, Trouble and If You Want to Sing Out.
After his conversion to Islam he abandoned his pop star life. He came back to singing in 1985 to take part in the Live Aid for human vocation. Almost three decades later after his art abandon, it was announced that a new album was defused in 2006 in favour of Islam and its occidental perception.
After his miraculous surviving from a car accident on the 23rd of December in 1977 (he said that God saved his life), Cat Stevens left his artistic folk life to embrace the religion of Islam under the name of Yusuf Islam.
It is with this name that he is living now in the United Kingdom with his wife and daughters. He participates in Islamic movements (He founded an Aid association for Muslims) and goes on singing basically religious songs (nasheed). He leads many charity operations (Tsunami aids 2004). His conversion made him ask for the compatibility of Folk/pop music and the rigorous practice of Islam; and that’s why he stopped singing for years. It is only in 2006 when he decided to edit a new Pop album; An other Cup.
.His conversion to Islam was also a polemical source. In 1989, when he was asked about his opinion concerning Salman Rushdie’s Fatwa, he declared that he was against the writer’s thoughts; however, he did not show any opposition towards Fatwa. This controversy made him highlight in a press release that he did not encourage personally the Fatwa application (calling for Salman Rushdie’s assassination).
In 2004 he was at the middle of an other controversy when his plane United Airlines 919, from London to Washington, was immediately forced to land by American security services since his name was already black listed on the Computer Assisted Passenger System in the “No Fly List” category. The American authorities accused him of supporting financially Hamas without any evidence. He is then not allowed to enter the United States territory. When he got out from the plan, he got arrested by the FBI and sent to the United Kingdom few days later. Until this day, he is still not allowed to stay in the American territory (the United States). This fact pushed Jack Straw, the ex-minister of foreign affaires, to lodge a complaint against his counterpart Colin Powell, the American secretary in the United Nations at that time. According to Yusuf Islam, the name “Yusuf Islam” was really black listed but it was not about him.
kebesaran Allah
“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” [QS. Al- Fushshilat]
January 28, 2011
January 27, 2011
air mata keinsafan
Panglima Romawi yang Bertaubat
Dalam kegemparan terjadinya peperangan Yarmuk, salah seorang panglima Romawi yang bermana George memanggil Khalid bin Walid. Kedua orang paglima itu saling mendekat sampai kedua kepala kuda mereka saling bertemu.
Dalam kegemparan terjadinya peperangan Yarmuk, salah seorang panglima Romawi yang bermana George memanggil Khalid bin Walid. Kedua orang paglima itu saling mendekat sampai kedua kepala kuda mereka saling bertemu.
Kepada Khalid, George bertanya: “Wahai Khalid, aku meminta kamu berbicara dengan jujur dan jangan berdusta sedikitpun, kerana Tuhan Yang Maha Mulia tidak pernah berdusta, dan jangan pula kamu menipuku, kerana sesungguhnya orang yang beriman itu tidak akan berdusta di sisi Allah.”
“Tanyalah apa yang ingin engkau tanyakan,” kata Khalid.
“Apakah Allah menurunkan kepada Nabi-Nya Muhammad SAW sebuah pedang dari langit kemudian diberikannya kepadamu sehingga jika kamu pakai pedang itu untuk berperang, pasti kamu akan menang?”
“Tidak!” Jawab Khalid.
“Apakah sebabnya kamu digelar dengan Saifullah (Pedang Allah)?” Tanya George.
Khalid menjawab: “Ketika Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW, seluruh kaumnya sangat memusuhinya termasuk juga aku, aku adalah orang yang paling membencinya. Setelah Allah SWT memberikan hidayah-Nya kepadaku, maka aku pun masuk Islam. Ketika aku masuk Islam Rasulullah SAW menerimaku dan memberi gelaran kepadaku “Saifullah” (pedang Allah).”
“Jadi tujuan kamu berperang ini untuk apa?” Tanya George.
“Kami ingin mengajak kamu supaya bersaksi bahawa tidak ada Tuhan melainkan Allah dan Muhammad itu adalah utusan Allah dan kami juga ingin mengajak kamu untuk mempercayai bahawa segala apa yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW itu adalah benar.” Jawab Khalid.
George bertanya: “Apakah hukumannya bila orang itu tidak mahu menerimanya?”
Jawab Khalid: “Hukumannya adalah harus membayar jizyah, maka kami tidak akan memeranginya.”
“Bagaimana kalau mereka tidak mahu membayar?” Tanya George.
“Kami akan mengumumkan perang kepadanya,” kata Khalid bin Walid.
George bertanya: “Bagaimanakah kedudukannya jika orang masuk Islam pada hari ini?”
Khalid menjawab: “Di hadapan Allah SWT, kita akan sama semuanya, baik dia orang yang kuat, orang yang lemah, yang dahulu mahupun yang kemudian masuk Islam.”
“Apakah orang dahulu masuk Islam kedudukannya akan sama dengan orang yang baru masuk?” Tanya George.
Khalid menjawab: “Orang yang datang kemudian akan lebih tinggi kedudukannya dari orang yang terdahulu, sebab kami yang terlebih dahulu masuk Islam, menerima Islam itu ketika Rasulullah SAW masih hidup dan kami dapat menyaksikan turunnya wahyu kepada baginda.
Sedangkan orang yang masuk Islam kemudian tidak menyaksikan apa yang telah kami saksikan. Oleh kerana itu siapa saja yang masuk Islam yang datang terakhir maka dia akan lebih mulia kedudukannya, sebab dia masuk Islam tanpa menyaksikan bukti-bukti yang lebih meyakinkannya terlebih dahulu.”
George bertanya: “Apakah yang kamu katakan itu benar?”
“Demi Allah, sesungguhnya apa yang aku katakan itu adalah benar,”jawab Khalid.
George berkata: “Kalau begitu aku akan percaya kepada apa yang kamu katakan itu, mulai saat ini aku bertaubat untuk tidak lagi memusuhi Islam dan aku menyatakan diri masuk ke dalam agama Islam, wahai Khalid tolonglah ajarkan aku tentang Islam.”
George berkata: “Kalau begitu aku akan percaya kepada apa yang kamu katakan itu, mulai saat ini aku bertaubat untuk tidak lagi memusuhi Islam dan aku menyatakan diri masuk ke dalam agama Islam, wahai Khalid tolonglah ajarkan aku tentang Islam.”
Lalu Khalid bin Walid membawa George ke dalam khemahnya, kemudian menuangkan air ke dalam timba untuk menyuruh George bersuci dan mengerjakan solat dua rakaat.
Ketika Khalid bersama dengan George masuk ke dalam khemah, maka tentera Romawi mengadakan serangan besar-besaran terhadap pertahanan umat Islam.
Setelah selesai mengerjakan solat, maka Khalid bin Walid bersama dengan George dan kaum Muslimin lainnya meneruskan peperangan sampai matahari terbenam dan di saat itu kaum Muslimin mengerjakan solat Zohor dan Asar dengan isyarat sahaja.
Dalam pertempuran itu, George yang telah bergabung dengan barisan kaum Muslimin itu terbunuh, dan dia hanya baru mengerjakan solat dua rakaat bersama dengan Khalid bin Walid. Walaupun demikian, ia telah menyatakan keIslamannya dan berjanji untuk tidak akan kembali lagi kepada agama lamanya. Semoga Allah menempatkan George ke dalam golongan orang-orang yang mati syahid. Amin.
Seorang Nasrani bermaksud mengejek-ejek Imam Muhammad bin Ali bin Husain yang digelar orang dengan panggilan “Al-Baqir” (yang luas pentahuannya). Orang Nasrani itu berkata kepadanya: “Engkau adalah baqar (lembu).” Maka Imam Baqir menjawab dengan penuh kelembutan: “Bukan, tetapi saya adalah Al-Baqir.”
Orang Nasrani tersebut tidak menghiraukan jawapan itu. Selanjutnya ia berkata: “Engkau adalah anak seorang tukang masak. Engkau adalah anak seorang wanita hitam yang mulutnya berbau busuk.”
Al-Baqir menjawab: “Seandainya engkau benar, maka aku doakan semoga wanita itu diampuni oleh Allah, dan jika engkau bohong, maka aku doakan semoga Allah mengampunimu.”
Al-Baqir menjawab: “Seandainya engkau benar, maka aku doakan semoga wanita itu diampuni oleh Allah, dan jika engkau bohong, maka aku doakan semoga Allah mengampunimu.”
Ternyata sikap lemah-lembut dan pemaaf yang dimiliki oleh Imam Muhammad bin Ali bin Husain itu telah menimbulkan rasa kagum pada diri orang Nasrani tersebut, sehingga akhirnya diapun bertaubat untuk tidak mengulangi lagi perangai buruknya itu dan menyatakan dirinya masuk ke dalam agama Islam.
Saleh Al-Muri bercerita, bahawa dia pernah melihat seorang perempuan tua memakai baju kasar di Mihrab Daud Alaihissalam. Perempuan yang telah buta matanya itu sedang mengerjakan solat sambil menangis terisak-isak. Setelah selesai solat dia mengangkat wajahnya ke langit dan berdoa:
“Wahai Tuhan Engkaulah tempatku memohon dan Pelindungku dalam hidup. Engkaulah penjamin dan pembimbingku dalam mati. Wahai Yang Maha Mengetahui perkara yang tersembunyi dan rahsia, serta setiap getaran batin tidak ada Raja bagiku selain Engkau yang kuharap dapat mengelak bencana yang dahsyat.”
“Wahai Tuhan Engkaulah tempatku memohon dan Pelindungku dalam hidup. Engkaulah penjamin dan pembimbingku dalam mati. Wahai Yang Maha Mengetahui perkara yang tersembunyi dan rahsia, serta setiap getaran batin tidak ada Raja bagiku selain Engkau yang kuharap dapat mengelak bencana yang dahsyat.”
Saleh Al-Muri memberi salam kepada perempuan tersebut dan bertanya: “Wahai puan! Apa yang menyebabkan hilangnya penglihatanmu?”
“Tangisku yang disebabkan sedihnya hatiku kerana terlalu banyaknya maksiatku kepada-Nya, dan terlalu sedikitnya ingatan dan pengabdianku kepada-Nya. Jika Dia mengampunkan aku dan menggantinya di akhirat nanti, adalah lebih baik dari kedua-dua mataku ini. Jika Dia tidak mengampunkan aku, buat apa mata di dunia tetapi akan dibakar di nereka nanti.” Kata perempuan tua itu.
“Tangisku yang disebabkan sedihnya hatiku kerana terlalu banyaknya maksiatku kepada-Nya, dan terlalu sedikitnya ingatan dan pengabdianku kepada-Nya. Jika Dia mengampunkan aku dan menggantinya di akhirat nanti, adalah lebih baik dari kedua-dua mataku ini. Jika Dia tidak mengampunkan aku, buat apa mata di dunia tetapi akan dibakar di nereka nanti.” Kata perempuan tua itu.
Saleh pun ikut menangis kerana sangat terharu mendengar hujjah wanita yang menggerunkan itu.
“Wahai Saleh! Sudikah kiranya engkau membacakan sesuatu dari ayat Al-Quran untukku. Kerana aku sudah sangat rindu kepadanya.” Pinta perempuan itu.
“Wahai Saleh! Sudikah kiranya engkau membacakan sesuatu dari ayat Al-Quran untukku. Kerana aku sudah sangat rindu kepadanya.” Pinta perempuan itu.
Lalu Saleh membacakan ayat yang ertinya:
“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya.”
(Al-An’am: 91)
“Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya.”
(Al-An’am: 91)
“Wahai Saleh, siapakah yang berkhidmat kepada-Nya dengan sebenarnya?” Kata perempuan itu lalu menjerit kuat-kuat dengan jeritan yang boleh menggoncangkan hati orang yang mendengarnya. Dia jatuh ke bumi dan meninggal dunia seketika itu juga.
Pada suatu malam Saleh Al-Muri bermimpi berjumpa dengan perempuan tua itu dalam keadaan memakai baju yang sangat bagus.
Dalam mimpi tersebut Saleh bertanya: “Bagaimana keadaanmu sekarang?”
Perempuan itu menjawab: “Sebaik saja rohku dicabut, aku didudukkan di hadapan-Nya dan berkata: “Selamat datang wahai orang yang mati akibat terlalu sedih kerana merasa sedikitnya khidmatnya kepada-Ku.”
Diceritakan bahawa ada seseorang menceritakan kepada Hasan Al-Basri: “Wahai Abu Said! Di sini ada seorang lelaki yang tidak mahu berkumpul dengan orang ramai. Dia sentiasa duduk sendirian saja.”
Hasan pergi kepada orang yang dimaksudkan itu dan berkata: “Wahai hamba Allah! Aku melihat engkau suka duduk menyendiri saja. Mengapa engkau tidak suka bergaul dengan orang ramai?”
“Ada suatu perkara yang telah menyibukkan aku dari berkumpul dengan manusia.”
“Ada suatu perkara yang telah menyibukkan aku dari berkumpul dengan manusia.”
Sekurang-kurangnya engkau pergi kepada lelaki yang dipanggil sebagai Hasan Al-Basri dan duduk di majlis ilmunya.” kata Hasan lagi.
“Ada satu perkara yang mencegah aku dari berkumpul dengan manusia termasuk Hasan Al-Basri.” Kata lelaki itu.
“Semoga Allah merahmatimu. Apakah gerangan yang sentiasa menyibukkan engkau?”
“Aku setiap hari tersepit di antara nikmat dan dosa. Maka setiap hari diriku sibuk mensyukuri nikmat-nikmat Allah dan sibuk bertaubat atas dosa-dosa tersebut.” Jawab lelaki itu.
“Wahai hamba Allah! Kalau begitu engkau lebih alim dari Hasan Al-Basri. Maka kekalkanlah amalan yang telah engkau lakukan.” Kata Hasan Al-Basri.
Taubat Para Wali
Zun Nun Al-Misri mendengar bahawa ada seorang yang sangat alim dan zuhud, maka pergilah dia ke sana untuk belajar. Sesampainya di sana dia menjumpai seorang lelaki menggantungkan dirinya pada sebatang pokok dengan kepala ke bawah. Orang itu berkata: “Wahai diri! Tolonglah aku dalam mentaati Allah. Kalau tidak nescaya aku akan hukum engkau dalam keadaan seperti ini sampai engkau mati kelaparan.”
Zun Nun mendekati orang itu lalu memberi salam dan dia menjawab.
“Apa yang telah terjadi dengan engkau ini?” Tanya Zun Nun.
“Tubuhku ini telah menghalangi aku untuk berseronok dengan Allah, kerana ingin bersuka-suka dengan manusia.” Jawab orang itu.
Dengan jawapan itu, Zun Nun menyangka bahawa orang itu telah menumpahkan darah sesama Muslim atau telah berbuat dosa besar lainnya.
“Apa yang telah engkau lakukan?” Tanya Zun Nun.
“Tahukah engkau bahawa jika seseorang itu bercampur baur dengan orang lain, banyak perkara yang boleh berlaku?”
“Kalau begitu, engkau ini betul-betul orang warak dan alim,” kata Zun Nun.
“Mahukah aku tunjukkan kamu orang yang lebih alim dariku?” kata orang itu.
“Boleh juga,” kata Zun Nun.
“Nah, sekarang pergilah engkau agak ke atas bukit ini. Insya Allah, engkau akan berjumpa dengan wali Allah yang saya maksudkan itu,” kata lelaki itu.
Maka segeralah Zun Nun mendaki agak sedikit ke atas lagi sehingga akhirnya ia berjumpa dengan satu tempat pertapaan yang di dalamnya ada seorang pemuda sedang duduk bersila, sementara di hadapan pintu pertapaan itu ada sebelah kaki yang terpotong membusuk dan dimakan ulat. Zun Nun sangat ngeri dan tidak faham apa yang dilihatnya itu. Maka diapun bertanya kepada pemuda tersebut apa ertinya semuanya itu.
Pemuda itu menerangkan bahawa pada suatu hari dia sedang duduk di dalam beribadahnya, tiba-tiba ada seorang perempuan yang melintas di luar. Apabila dia terpandang kepadanya, timbul keinginannya kepada wanita cantik itu dan cuba untuk mengejarnya dari belakang.
Akan tetapi, baru saja dia melangkahkan sebelah kakinya ke luar dari tempatnya, tiba-tiba dia mendengar suara: “Wahai manusia, apakah engkau tidak merasa malu? Setelah tiga puluh tahun engkau menghadapkan hati kepada Tuhan, tiba-tiba sekarang engkau telah mahu ditipu oleh syaitan dan akan mengejar perempuan jahat itu.”
Disebabkan kerana kesalahannya itulah, pemuda itu telah memotong sebelah kakinya yang telah terlanjur keluar dari tempat ibadahnya.
“Jadi aku ini sebenarnya orang berdosa,” kata lelaki itu. “Maka dari itu engkau tidak patut menemuiku yang sedang dalam penantian keputusan ini. Jika engkau ingin menjumpai seorang yang betul-betul wali, pergilah engkau ke puncak bukit ini.”
Sayang puncak bukit tersebut terlalu tinggi dan sukar untuk didaki sehingga Zun Nun tidak sanggup mencapainya. Sebaliknya dia hanya mendengarkan saja cerita si pertapa dari orang-orang yang mengetahuinya.
Katanya ada seorang lelaki yang telah bertahun-tahun mengabdikan dirinya kepada Allah. Dia telah bersumpah untuk tidak makan selain dari usahanya sendiri dan tidak akan makan makanan yang telah diproses. Dengan izin Allah, sekumpulan lebah telah membuat sarang di dekat tempat ibadahnya, dengan madu lebah itulah wali tersebut mengalas perutnya.
insan di bawah cahaya Ilahi
Secara kebetulan pada suatu hari ada seorang ahli ibadah yang melihat wajah pelacur cantik itu sehingga membuatkan ahli ibadah itu tertarik dan jatuh cinta kepadanya. Kerana lelaki ahli ibadah itu mengetahui, bahawa untuk dapat dilayani oleh pelacur cantik itu orang harus memberinya wang sebanyak seratus dinar, maka lelaki ahli ibadah itu akhirnya pergi mencari pekerjaan untuk mengumpulkan wang sebanyak itu.
Setelah wang sebanyak seratus dinar itu dapat dikumpulkan, dia pun pergi menemui pelacur cantik itu serta berkata kepadanya: “Kecantikanmu telah membuatkan aku benar-benar tergoda, oleh kerana itu, aku telah berusaha sedaya upayaku untuk mendapatkan wang seratus dinar sebagaimana yang engkau kehendaki itu.”
Setelah wang sebanyak seratus dinar itu dapat dikumpulkan, dia pun pergi menemui pelacur cantik itu serta berkata kepadanya: “Kecantikanmu telah membuatkan aku benar-benar tergoda, oleh kerana itu, aku telah berusaha sedaya upayaku untuk mendapatkan wang seratus dinar sebagaimana yang engkau kehendaki itu.”
Wanita pelacur itu berkata: “Silakan masuk ke rumahku.”
Dengan tidak berfikir panjang, ahli ibadah itu langsung masuk ke rumahnya. Di dalam rumah pelacur yang cantik jelita itu ada tersedia sebuah tempat tidur yang dibuat dari emas. Pelacur itu lalu duduk di atas tempat tidurnya dan berkata: “Marilah segera mendekatiku.”
Ketika lelaki ahli ibadah itu bermaksud untuk memuaskan nafsunya, pada waktu itu juga tiba-tiba ia ingat kepada Allah sehingga menggigil seluruh tubuhnya. Kepada wanita pelacur tersebut lelaki ahli ibadah itu berkata: “Biarlah aku pergi saja meninggalkan kamu dan wang yang jumlahnya seratus dinar itu ambillah olehmu!”
Wanita pelacur itu kembali bertanya: “Apakah sebenarnya yang terjadi atas dirimu, bukankah kamu telah tergila-gila kepadaku sehingga kamu membanting tulang dan mengeluarkan peluh untuk mendapatkan wang sebanyak seratus dinar? Pada saat ini kamu telah mendapatkan apa yang kamu inginkan itu, akan tetapi mengapa kamu akan meninggalkan aku?”
Lelaki ahli ibadah itu berkata: “Sesungguhnya aku takut kepada Allah SWT dan juga atas kedudukanku selama ini di sisi-Nya. Berkemungkinan kerana aku akan pergi meninggalkan kamu, kamu merasa benci kepadaku, ketahuilah olehmu, sesungguhnya aku juga sangat membenci kamu kerana Allah.
Wanita pelacur itu berkata: “Jika yang kamu katakan itu benar, aku tidak akan bersuami kepada orang lain melainkan kamu.”
Lelaki ahli ibadah itu berkata: “Biarlah aku keluar!”
Wanita pelacur itu menjawab: “Tidak, kecuali bila kamu mahu menjadi suamiku.”
“Tidak, biarlah aku keluar dari rumahmu ini!” kata lelaki itu.
Wanita itu kembali bertanya: “Apakah yang membuatmu merasa keberatan bila aku memohon kepadamu supaya engkau mahu menikahi aku?”
Lelaki itu menjawab: “Untuk menjadi isteriku boleh saja, akan tetapi aku harus pergi meninggalkan tempat ini kembali ke tempat biasanya aku melakukan ibadah.”
Selepas berkata demikian, lelaki ahli ibadah itu langsung pergi meninggalkan rumah pelacur tersebut. Begitu juga dengan wanita pelacur itu ia ikut serta keluar dari daerahnya untuk bertaubat kepada Allah dan menyesali segala perbuatan yang telah dilakukannya. Wanita pelacur itu terus berjalan, hingga akhirnya ia sampai ke tempat asal lelaki ahli ibadah tersebut.
Kepada ahli ibadah tersebut seseorang datang menemuinya dan berkata: “Sesungguhnya permaisurimu telah datang kepadamu.”
Ketika ahli ibadah melihat kedatangan wanita itu, ia terkejut dan langsung terjatuh dalam pelukan wanita pelacur yang cantik jelita itu. Pada waktu itu juga lelaki ahli ibadah tersebut menghembuskan nafasnya yang terakhir. Melihat keadaan demikian, kepada orang yang hadir wanita pelacur yang telah bertaubat itu bertanya? “Apakah lelaki idamanku yang telah meninggalkanku buat selama-lamanya ini ada mempunyai saudara?”
Orang yang hadir pada waktu itu menjawab: “Ia ada mempunyai seorang saudara lelaki, akan tetapi saudara lelakinya itu hidup dalam keadaan kemiskinan.”
“Jika memang demikian, aku akan menikah dengannya sebagai ganti dari lelaki yang aku cintai ini,” kata wanita itu.
Akhirnya wanita tersebut menikah dengan saudara lelaki ahli ibadah itu dan dari hasil pernikahan tersebut, Allah SWT mengurniakan kepada mereka sebanyak tujuh orang anak yang kemudian ketujuh orang anak tersebut menjadi nabi semuanya.
Sebuku Roti Penebus Dosa
...
bu Burdah bin Musa Al-Asy’ari meriwayatkan, bahawa ketika menjelang wafatnya Abu Musa pernah berkata kepada puteranya: “Wahai anakku, ingatlah kamu akan cerita tentang seseorang yang mempunyai sebuku roti.”
Dahulu kala di sebuah tempat ibadah ada seorang lelaki yang sangat tekun beribadah kepada Allah. Ibadah yang dilakukannya itu selama lebih kurang tujuh puluh tahun. Tempat ibadahnya tidak pernah ditinggalkannya, kecuali pada hari-hari yang telah dia tentukan. Akan tetapi pada suatu hari, dia digoda oleh seorang wanita sehingga diapun tergoda dalam pujuk rayunya dan bergelumang di dalam dosa selama tujuh hari sebagaimana perkara yang dilakukan oleh pasangan suami-isteri.
Setelah ia sedar, maka ia lalu bertaubat, sedangkan tempat ibadahnya itu ditinggalkannya, kemudian ia melangkahkan kakinya pergi mengembara sambil disertai dengan mengerjakan solat dan bersujud.
Akhirnya dalam pengembaraannya itu ia sampai ke sebuah pondok yang di dalamnya sudah terdapat dua belas orang fakir miskin, sedangkan lelaki itu juga bermaksud untuk menumpang bermalam di sana, kerana sudah sangat letih dari sebuah perjalanan yang sangat jauh, sehingga akhirnya dia tertidur bersama dengan lelaki fakir miskin dalam pondok itu.
Rupanya di samping kedai tersebut hidup seorang pendita yang ada setiap malamnya selalu mengirimkan beberapa buku roti kepada fakir miskin yang menginap di pondok itu dengan masing-masingnya mendapat sebuku roti. Pada waktu yang lain, datang pula orang lain yang membagi-bagikan roti kepada setiap fakir miskin yang berada di pondok tersebut, begitu juga dengan lelaki yang sedang bertaubat kepada Allah itu juga mendapat bahagian, kerana disangka sebagai orang miskin.
Rupanya salah seorang di antara orang miskin itu ada yang tidak mendapat bahagian dari orang yang membahagikan roti tersebut, sehingga kepada orang yang membahagikan roti itu ia berkata: “Mengapa kamu tidak memberikan roti itu kepadaku.”
Orang yang membagikan roti itu menjawab: “Kamu dapat melihat sendiri, roti yang aku bagikan semuanya telah habis, dan aku tidak membagikan kepada mereka lebih dari satu buku roti.”
Mendengar ungkapan dari orang yang membagikan roti tersebut, maka lelaki yang sedang bertaubat itu lalu mengambil roti yang telah diberikan kepadanya dan memberikannya kepada orang yang tidak mendapat bahagian tadi. Sedangkan keesokan harinya, orang yang bertaubat itu meninggal dunia.
Di hadapan Allah, maka ditimbanglah amal ibadah yang pernah dilakukan oleh orang yang bertaubat itu selama lebih kurang tujuh puluh tahun dengan dosa yang dilakukannya selama tujuh malam. Ternyata hasil dari timbangan tersebut, amal ibadat yang dilakukan selama tujuh puluh tahun itu dikalahkan oleh kemaksiatan yang dilakukannya selama tujuh malam. Akan tetapi ketika dosa yang dilakukannya selama tujuh malam itu ditimbang dengan sebuku roti yang pernah diberikannya kepada fakir miskin yang sangat memerlukannya, ternyata amal sebuku roti tersebut dapat mengalahkan perbuatan dosanya selama tujuh malam itu.
Kepada anaknya Abu Musa berkata: “Wahai anakku, ingatlah olehmu akan orang yang memiliki sebuku roti itu!”
Empat Puluh Tahun Berbuat Dosa
...
alam riwayat yang lain pula dijelaskan, bahawa pada zaman Nabi Musa as, kaum bani Israil pernah ditimpa musim kemarau panjang, lalu mereka berkumpul menemui Nabi Musa as dan berkata: “Wahai Kalamullah, tolonglah doakan kami kepada Tuhanmu supaya Dia berkenan menurunkan hujan untuk kami!”
Kemudian berdirilah Nabi Musa as bersama kaumnya dan mereka bersama-sama berangkat menuju ke tanah lapang. Dalam suatu pendapat dikatakan bahawa jumlah mereka pada waktu itu lebih kurang tujuh puluh ribu orang.
Setelah mereka sampai ke tempat yang dituju, maka Nabi Musa as mulai berdoa. Diantara isi doanya itu ialah: “Tuhanku, siramlah kami dengan air hujan-Mu, taburkanlah kepada kami rahmat-Mu dan kasihanilah kami terutama bagi anak-anak kecil yang masih menyusu, haiwan ternak yang memerlukan rumput dan orang-orang tua yang sudah bongkok. Sebagaimana yang kami saksikan pada saat ini, langit sangat cerah dan matahari semakin panas.
Tuhanku, jika seandainya Engkau tidak lagi menganggap kedudukanku sebagai Nabi-Mu, maka aku mengharapkan keberkatan Nabi yang ummi iaitu Muhammad SAW yang akan Engkau utus untuk Nabi akhir zaman.
Kepada Nabi Musa as Allah menurunkan wahyu-Nya yang isinya: “Aku tidak pernah merendahkan kedudukanmu di sisi-Ku, sesungguhnya di sisi-Ku kamu mempunyai kedudukan yang tinggi. Akan tetapi bersama denganmu ini ada orang yang secara terang-terangan melakukan perbuatan maksiat selama empat puluh tahun. Engkau boleh memanggilnya supaya ia keluar dari kumpulan orang-orang yang hadir di tempat ini! Orang itulah sebagai penyebab terhalangnya turun hujan untuk kamu semuanya.”
Nabi Musa kembali berkata: “Wahai Tuhanku, aku adalah hamba-Mu yang lemah, suaraku juga lemah, apakah mungkin suaraku ini akan dapat didengarnya, sedangkan jumlah mereka lebih dari tujuh puluh ribu orang?” Allah berfirman: “Wahai Musa, kamulah yang memanggil dan Aku-lah yang akan menyampaikannya kepada mereka!.”
Menuruti apa yang diperintahkan oleh Allah, maka Nabi Musa as segera berdiri dan berseru kepada kaumnya: “Wahai seorang hamba yang derhaka yang secara terang-terangan melakukannya bahkan lamanya sebanyak empat puluh tahun, keluarlah kamu dari rombongan kami ini, kerana kamulah, hujan tidak diturunkan oleh Allah kepada kami semuanya!”
Mendengar seruan dari Nabi Musa as itu, maka orang yang derhaka itu berdiri sambil melihat kekanan kekiri. Akan tetapi, dia tidak melihat seorangpun yang keluar dari rombongan itu. Dengan demikian tahulah dia bahawa yang dimaksudkan oleh Nabi Musa as itu adalah dirinya sendiri. Di dalam hatinya berkata: “Jika aku keluar dari rombongan ini, nescaya akan terbukalah segala kejahatan yang telah aku lakukan selama ini terhadap kaum bani Israil, akan tetapi bila aku tetap bertahan untuk tetap duduk bersama mereka, pasti hujan tidak akan diturunkan oleh Allah SWT.”
Setelah berkata demikian dalam hatinya, lelaki itu lalu menyembunyikan kepalanya di sebalik bajunya dan menyesali segala perbuatan yang telah dilakukannya sambil berdoa: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah derhaka kepada-Mu selama lebih empat puluh tahun, walaupun demikian Engkau masih memberikan kesempatan kepadaku dan sekarang aku datang kepada-Mu dengan ketaatan maka terimalah taubatku ini.”
Beberapa saat selepas itu, kelihatanlah awan yang bergumpalan di langit, seiring dengan itu hujanpun turun dengan lebatnya bagaikan hanya ditumpahkan saja dari atas langit.
Melihat keadaan demikian maka Nabi Musa as berkata: “Tuhanku, mengapa Engkau memberikan hujan kepada kami, bukankah di antara kami tidak ada seorangpun yang keluar serta mengakui akan dosa yang dilakukannya?”
Allah berfirman: “Wahai Musa, aku menurunkan hujan ini juga di sebabkan oleh orang yang dahulunya sebagai sebab Aku tidak menurunkan hujan kepada kamu.”
Allah berfirman: “Wahai Musa, aku menurunkan hujan ini juga di sebabkan oleh orang yang dahulunya sebagai sebab Aku tidak menurunkan hujan kepada kamu.”
Nabi Musa berkata: “Tuhanku, lihatkanlah kepadaku siapa sebenarnya hamba-Mu yang taat itu?”
Allah berfirman: “Wahai Musa, dulu ketika dia derhaka kepada-Ku, Aku tidak pernah membuka aibnya. Apakah sekarang. Aku akan membuka aibnya itu ketika dia telah taat kepada-Ku? Wahai Musa, sesungguhnya Aku sangat benci kepada orang yang suka mengadu. Apakah sekarang Aku harus menjadi pengadu?”
Subscribe to:
Posts (Atom)